“Ah… sudahlah, sudah takdirnya begitu…”
”Aku memang ditakdirkan begini…”
“Kalau sudah takdir mau diapain lagi..?”
“Takdir… memang
kejaamm…”.
“Mengapa aku ditakdirkan begini…?”
“Semua ini adalah
takdir YANG KUASA…”
Yah… kata-kata itulah yang sering kita dengar
sehubungan dengan takdir, takdir dan takdir. Kadang orang langsung berkata ”memang sudah takdirnya demikian” saat
sesuatu terjadi. Misalnya ada seorang yang jelek tapi dapat jodoh orang yang
sangat rupawan, atau ada orang yang baru sekali ikut undian tapi langsung dapat
yang besar, sedangkan yang berkali-kali ikut undian gak pernah dapat.
Sebenarnya apa sih takdir itu..?
Takdir adalah ketentuan dari YANG KUASA atas
segala ciptaan-NYA. Namun bukan berarti segalanya berjalan begitu saja karena
sudah digariskan demikian dan tidak mungkin berubah lagi, seperti kata
orang-orang yang putus asa dalam menghadapi hidup ini, terutama saat terkena
musibah.
Musibah tsunami di Aceh, luapan lumpur di
Sidoarjo, gempa di Jogjakarta dan yang terbaru, banjir bandang di Ibu Kota
tercinta, dimana dari keempat bencana tersebut, aku berada di dua diantaranya,
yah.. gempa Jogja 27 Mei 2006 dan Banjir Jakarta di awal bulan februari 2007
ini, aku berada di lokasi bencana dan alhamdulillah selamat.
Bencana-bencana di atas, dan juga bencana lain
yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu (haiah kayak ucapan terima kasih
di skripsi saja), adalah merupakan sebuah takdir. Tapi apakah semua ini memang
sudah digariskan dari sejak dahulu kala, ketika bumi dan langit diciptakan
oleh-NYA..? sehingga apapun usaha kita, jika memang telah digariskan untuk
banjir di akhir bulan januari ini, maka tetaplah terjadi banjir..?
Jawabannya TIDAK…!!!
karena banjir bukanlah takdir yang ”saklek”,
takdir yang tak dapat dihindari atau diupayakan untuk tidak terjadi.
Bencana-bencana di negara tercinta ini merupakan akibat dari kelalaian manusia,
tentu saja yang tinggal di negara ini, yang tak lagi menghiraukan
peringatan-peringatan-NYA dan masih saja meninggalkan perintah-NYA dan melanggar
larangan-NYA.
Perintah-NYA tidak hanya sholat, zakat, puasa,
haji, shodaqoh, dan ibadah-ibadah serupa. Begitu pula dengan larangan-NYA,
bukan hanya berzina, musyrik dan perbuatan-perbuatan dosa lain yang sejenisnya.
Orang awam hanya menganggap kalau beribadah itu hanyalah menyembah-NYA saja.
Lalu saat terjadi bencana seperti ini, mereka (atau kita ya) hanya bisa mencari
siapa yang salah, saling tunjuk hidung orang lain, tanpa sadar bahwa
hidungnyalah yang seharusnya ditunjuk sebagai biang kerok, biang keladi
penyebab banjir atau bencana itu.
Buang sampah sembarangan, penggundulan hutan,
villa-ni-sasi (istilah saya sendiri untuk menyebut makin maraknya pembangunan
villa-villa di bukit-bukit yang bertanah tinggi, bukan daerah tanah tinggi,
yang mereka yakin aman dari banjir), ”penggusuran” daerah resapan dan aliran
air, seperti sungai dan rawa, untuk dijadikan daerah pemukiman, dan lain
sebagainya, adalah contoh konkret penyebab banjir. Belum lagi kalau mau menilik
lebih dalam ke perilaku para wakil rakyat, baik di tingkat pusat maupun daerah,
para ”pamong” (yang harusnya jadi pamomong, malah jadi ajang pamor) yang
bertindak ”seenak udelnya” memberikan izin pembangunan tersebut (tentunya
sebelumnya telah memberikan izin penggundulan dan penggusuran terlebih dahulu),
walikota yang sombong yang sesumbar kalau jakarta akan bebas banjir (tapi
ternyata terwujud, di jakarta, banjir bebas berkelana hahahahahha….).
Kesemua itu adalah penyebab takdir terjadinya
banjir di jakarta ini. Lalu seperti apakah yang namanya takdir itu..? apakah
ada takdir yang pakai penyebab, takdir yang ”saklek”, takdir yang lain sebagainya…?
Takdir ada 3 macam :
1. Takdir Kauni
2. Takdir Syar’i
3. Takdir Ghoibi
Takdir Kauni adalah takdir sebab akibat. Yaitu
takdir yang terjadi dengan adanya penyebab, seperti banjir di jakarta ini. Jadi
bencana di Jakarta yang baru saja terjadi (dan belum usai) adalah takdir yang
ada penyebabnya (yang sudah saya sebut di atas, dan masih banyak lagi). Contoh
lain seperti kecelakaan karena mengendarai kendaraan dengan ugal-ugalan, itu
juga merupakan takdir Kauni, yang disebabkan oleh ugal-ugalan itu tadi.
Takdir Syar’i adalah takdir yang terjadi secara
hukum. Misalnya takdir bagi seorang lelaki untuk menjadi wali nikah bagi
putrinya, takdir seorang wanita bisa hamil dan melahirkan, dan sebagainya.
Takdir Ghoibi adalah takdir yang tidak kita
ketahui. Sesuai namanya, adalah merupakan hal ghoib yang merupakan ”misteri
illahi” (bukan lagunya Ari Lasso lho) seperti takdir Kiamat, Maut, Jodoh,
Rezeki (meski rezeki bisa masuk juga dalam kategori takdir kauni, karena dengan
bekerja kita mendapatkan upah atau gaji yang merupakan salah satu rezeki, tapi
rezeki tidak hanya dari upah dan gaji kan.. nah yang ”lain-lain” itu
yang masuk ke takdir ghoibi).
Nah sekarang
kalau memang mau berkata “itu sudah takdirnya”, apakah kita sudah berpikir
takdir yang mana..? Silakan ditelaah dulu sebelum berbicara.
Semoga berguna.